11.1.22

Hasil Temuan Kunjungan Lapangan Proyek ReCLAIM di Benchmark Banyuwangi

Banyuwangi - IKAMaT. Banyuwangi secara administratif merupakan kabupaten terluas yang terdapat di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Banyuwangi juga memiliki kekayaan alam yang melimpah dan salah satunya adalah kekayaan hutan mangrove yang terdapat di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Teluk Pangpang. Kawasan tersebut merupakan kawasan bernilai ekosistem penting yang berada di luar Kawasan Suaka Alam (KSA).

Sebagai kawasan yang dilindungi, Teluk Pangpang memiliki fungsi pelestarian keanekaragaman hayati sehingga ditetapkan sebagai KEE melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Provinsi Jawa Timur pada tahun 2020. Sebagai informasi, kawasan mangrove yang terdapat di sini terdapat di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Muncar dan Tegaldimo.

IKAMaT, Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Center for International Forestry Research (CIFOR) sedang bekerja sama dalam proyek Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal tentang Restorasi Mangrove atau Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM).

Dalam rangka implementasi proyek tersebut di atas, maka IKAMaT telah melakukan kunjungan lapangan ke Banyuwangi untuk menggali informasi yang hasilnya akan dikelompokkan berdasarkan Strength, Weakness, Opportunity and Threat (SWOT) di masing-masing isu (1-2/12/21).

Hari Pertama
Hari pertama, pada pukul 09.00 WIB, IKAMaT yang diwakili Paspha Ghaishidra Muhammad Putra dan Zainnuri Sofyan Bisri bertemu dengan Edy Widiyantoro, S.Pi (Kepala Seksi Kenelayanan, Dinas Perikanan Banyuwangi).

Edy menjelaskan bahwa memang belum terdapat Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Banyuwangi yang secara khusus dibentuk sebagai wadah pertukaran informasi yang spesifik mengenai mangrove.

“Forum KEE Teluk Pangpang merupakan wadah yang saat ini difungsikan juga, untuk pertukaran informasi mengenai mangrove, yang didalamnya terdapat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Kelompok Usaha Bersama (KUB), POKMASWAS (Kelompok Masyarakat Pengawas) dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS),” jelas Edy.

Pukul 11.00 WIB
Setelah itu, pada pukul 11.00 WIB, IKAMaT bertolak ke Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, dimana daerah tersebut masuk kedalam wilayah KEE Teluk Pangpang, untuk bertemu Muhamad Ali Saifudin (Ketua POKMASWAS Bakti Teluk Pangpang), Andik (masyarakat pesisir) dan Umar (Ketua KUB Mina Sero Laut).

Dalam kesempatan tersebut, dibahas mengenai kondisi pesisir Banyuwangi secara mendalam, diantaranya mengenai pengelolaan mangrove, jejaring dan perundang-undangannya.

“Dalam pengelolaan mangrove, masyarakat telah banyak dilibatkan, terbukti dari telah terbentuknya banyak kelompok masyarakat, seperti Kelompok Tani Hutan (KTH), KUB dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya,” jelas Ali.

Andik menambahkan bahwa juga sudah terdapat peraturan perundang-undangan mengenai mangrove di KEE Teluk Pangpang

"Bahkan ada juga aturan lain, yaitu Peraturan Desa (Perdes) tetapi masih belum tersosialisasikan dengan baik,” tambah Andik.

Selain itu, Paspha dan Zainnuri juga berkesempatan secara langsung melihat kondisi mangrove di Teluk Pangpang. Dari pengamatan di lapangan, ditemukan fakta bahwa mangrove di Teluk Pangpang dalam kondisi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari kerapatan, tutupan tajuk dan keanekaragaman jenisnya yang melimpah.

"Terdapat mangrove jenis Sonneratia, Rhizophora, Avicennia dan Excoecaria yang mendominasi hutan mangrove di daerah ini,” ujar Paspha. “Selain itu, jenis Acanthus ebracteatus juga terlihat, dimana secara alami, jenis mangrove asosiasi ini dapat dijadikan obat untuk meredakan asam lambung, dengan cara dikeringkan dan diseduh seperti teh,” lanjutnya.

Pukul 15.00 WIB
Kemudian pada pukul 15.00 WIB, IKAMaT berkunjung ke kediaman Wibi dan Krisna yang merupakan pengurus salah satu LSM yang terdapat di Banyuwangi, yaitu Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam (ARuPA) yang bertempat di Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

“Saya yakin kesadaran masyarakat yang berada dalam KEE mengenai pentingnya mangrove dan manfaatnya, sudah tertanam dengan baik," ungkap Wibi. "Tetapi masyarakat di luar KEE masih belum mengerti akan hal tersebut, sehingga perlu diberikan pendampingan dan pendekatan, untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya mangrove,” ungkapnya lebih lanjut.

Krisna menambahkan bahwa banyak kasus perusakan mangrove karena pengambilan cacing di dalam lumpur mangrove atau perburuan burung yang berhabitat di mangrove. Hal ini justru dilakukan oleh oknum masyarakat di luar KEE.

“Hal tersebut tentunya sangat meresahkan. Tapi untungnya, masyarakat di dalam KEE sudah sepakat, akan sigap melakukan pelaporan ketika hal tersebut terjadi di lapangan,” terang Krisna lebih lanjut.

Hari Kedua
Pada hari kedua, pada pukul 10.00 WIB, IKAMaT berkunjung ke Agus Sugiyanto, S.Hut (Cabang Dinas Kehutanan Banyuwangi) dilanjutkan ke Umar (Ketua KUB Mina Sero Laut) di Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar.

“Kami sebagai penyuluh kehutanan sangat senang mendapat informasi dari IKAMaT mengenai pemanfaatan mangrove untuk pewarna batik alami, yang bisa menjadi pendapatan alternatif bagi warga pesisir nantinya. Ini belum dikembangkan di Banyuwangi,” kata Agus. “Harapan kedepannya, di Banyuwangi bisa membuat sentra batik mangrove-nya sendiri, seperti yang dilakukan KeSEMaT di Semarang, sebagai bentuk pemanfaatan berkelanjutan akan kekayaan hutan mangrovenya,” tambahnya.

Selain itu, objek pariwisata berbasis eko-eduwisata juga sudah mulai dikembangkan di Desa Wringin Putih, tepatnya di Eco Edu Park Mangrove dan Cemara Laut.

Tracking mangrove mulai dibuat, melalui swadaya masyarakat di sekitar sini. Tujuan pendirian eko-eduwisata ini adalah, agar dapat menyadarkan lebih banyak masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam, khususnya ekosistem hutan mangrove,” jelas Umar.

Hasil dari kunjungan lapangan ini, akan diolah oleh IKAMaT, kemudian digabungkan dengan hasil temuan di kedua benchmark lainnya, yaitu Demak dan Banten sehingga akan diperoleh hasil yang lengkap sehingga didapatkan pertukaran infomasi untuk memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan di kawasan mangrove dan pesisir Banyuwangi. (AP/PGMP/ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar