10.1.22

Hasil Temuan Kunjungan Lapangan Proyek ReCLAIM di Benchmark Banten

Banten - IKAMaT. IKAMaT kembali melakukan kunjungan lapangan dalam rangka implementasi proyek ReCLAIM, kali ini ke benchmark Banten untuk menggali informasi pengelolaan, jejaring dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan mangrovenya. (8-9/12/21). Kunjungan ini serupa dengan kunjungan yang telah lebih dahulu dilakukan di benchmark Demak dan Banyuwangi.

Kunjungan pertama dilakukan di Sekretariat Kelompok Pecinta Alam Pesisir Pulau Dua (KPAPPD), Serang. Tim IKAMaT bertemu dengan Kasrudin, selaku ketua kelompok. Pada pertemuan tersebut, Kasrudin menyebutkan bahwa di wilayah Pulau Dua, Serang sudah terdapat beberapa kelompok yang mulai terbentuk, namun masih belum dapat konsisten dalam berkegiatan.

“Untuk saat ini, komunitas dan jejaring masyarakat pecinta mangrove sudah terbentuk dalam WhatsApp Group, sebagai wadah pertukaran informasi mangrove di Serang,” ujar Kasrudin. “Namun, kendalanya adalah konsistensi kelompok yang belum bisa ditingkatkan. Terkadang berkegiatan apabila ada program saja,” tambahnya lebih lanjut.

Frans A. Nainggolan, selaku perwakilan IKAMaT, dalam kunjungan tersebut menemukan fakta bahwa kondisi ekosistem mangrove di Pulau Dua cukup terkelola dengan baik. Terlebih, ditambah dengan adanya kontribusi dari dinas, LSM dan perguruan tinggi setempat sehingga membuat kelompok semakin terbantu dalam mengelola mangrove di kawasan tersebut.

Selesai berkunjung di KPAPPD, Tim IKAMaT bertemu dengan pengelola Jembatan Pelangi, Serang, yaitu Ropin.

“Sejak berdiri 2017, Ekowisata Mangrove Jembatan Pelangi ini, sudah berkembang sangat pesat. Pembangunan ekowisata ini tidak bisa terwujud tanpa adanya bantuan dari masyarakat dan pendonor, yang telah memberikan bantuan dan kepercayaan kepada kami,” ujar Ropin.

Anggoro D. B. Saputro, dari IKAMaT menemukan fakta bahwa berdasarkan pengamatan dan informasi di lapangan, Kabupaten Serang sudah memiliki satu pusat ekowisata mangrove yang berhasil dikembangkan dengan baik oleh masyarakat setempat. Masyarakat juga sudah sadar akan keberadaan mangrove yang perlu dikonservasi untuk ekowisata sehingga dapat meningkatkan taraf perekonomian.

“Ini dapat menjadi contoh bagi lokasi lain di benchmark Banten, agar pemanfaatan mangrove sebagai ekowisata maupun hal lainnya, juga dapat dilakukan oleh warga pesisir," terang Anggoro. "Hal ini, tentu saja masih membutuhkan dukungan dari dinas dan stakeholder terkait lainnya, sehingga masyarakat akan terus tergerak dalam menjaga dan merawat mangrovenya,” terangnya lebih lanjut.

Keseluruhan hasil hasil kunjungan di Banten akan diolah menggunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity and Threatness (SWOT) untuk mendapatkan beberapa rekomendasi, sebagai alternatif solusi dari permasalahan mangrove yang terjadi di benchmark Banten, sehingga akan didapatkan konsep pengembangan pengelolaan mangrove yang lebih optimal. (FAN/AP/ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar