Melalui diskusi ini, kedua pihak saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan gagasan mengenai peluang keterlibatan pemuda dalam mendorong tumbuhnya pekerjaan hijau di masa depan dan pemberdayaan kepada masyarakat tentang pengembangan ekonomi hijau berkelanjutan dan berbasis potensi yang ada di tingkat lokal.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Aris Priyono (Direktur Teknologi dan Informasi) dan Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) serta Samsul Maarif dan Jieo Pandu (KeSEMaT).
Dalam sesi diskusi, Aris menyampaikan empat pilar yang dilaksanakan oleh IKAMaT selama ini dalam melaksanakan kegiatannya, yaitu yaitu pendampingan penanaman dan pemantauan mangrove, pemberdayaan masyarakat, riset mangrove, serta pengembangan industri kreatif mangrove.
“Melalui empat pilar yang dimiliki, IKAMaT berupaya memperluas dan mengembangkan ekosistem yang meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya ekosistem pesisir, khususnya mangrove. Keempat pilar tersebut menjadi bagian dari upaya IKAMaT dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai peran penting mangrove bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir,” jelas Aris. “Dalam hal ini, kami juga berupaya mengembangkan media yang dapat dengan mudah masyarakat jangkau ketika mencari informasi mengenai ekosistem mangrove. Hal ini dapat terlihat melalui mesin pencarian Google, ekosistem media kami dapat dengan mudah ditemukan,” tambahnya.
Kemudian, Rena juga menyampaikan mengenai skema program yang dijalankan oleh setiap unit dan afiliasi yang dimiliki IKAMaT. Diskusi tersebut mencakup berbagai bentuk kegiatan yang dikembangkan, mulai dari pendampingan penanaman dan pemantauan, adopsi, riset, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan industri kreatif berbasis mangrove.
Selain itu, Rena turut menjelaskan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan IKAMaT, termasuk upaya peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan potensi lokal, serta pelibatan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan mangrove.
Kemudian, Bayu dan Azka (Yayasan Inovasi Muda) juga menyampaikan mengenai agenda yang telah dilaksanakan oleh lembaga mereka dalam hal ini merupakan lembaga pendidikan keberlanjutan di Indonesia yang menciptakan peluang kerja ramah lingkungan kepada para pemuda dan masyarakat luas untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan.
Bayu menambahkan bahwa Yayasan Inovasi Muda saat ini sedang merencanakan kegiatan yang berfokus pada pengembangan kapasitas generasi muda dalam mendorong pertumbuhan pekerjaan hijau (green jobs).
Inisiatif tersebut secara khusus diarahkan pada bidang karbon biru, dengan melihat potensi ekosistem pesisir dan mangrove sebagai bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman yang relevan dengan pengembangan green jobs di sektor karbon biru.
Kegiatan kunjungan dan diskusi berjalan dengan baik dan lancar serta menjadi sarana bagi IKAMaT dan Yayasan Inovasi Muda bertukar informasi mengenai potensi pengembangan pekerjaan hijau dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.
Sebagai penutup, kunjungan ini diharapkan dapat menjadi awal dari terbukanya ruang kolaborasi antara IKAMaT dan Yayasan Inovasi Muda dalam mengembangkan kapasitas generasi muda di bidang pekerjaan hijau, khususnya yang berkaitan dengan karbon biru dan ekosistem pesisir.
Pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dilakukan juga menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi peluang sinergi dalam pengembangan program yang tidak hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat dan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir. (ADM/ARH/RS/AP).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar