Kegiatan ini dilaksanakan di Pondok Mangrove Kelompok Ngebruk Lestari (KENARI) yang diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari kelompok masyarakat/tani, pelajar dan mahasiswa, serta instansi terkait ekosistem mangrove.
Dalam pelatihan ini, kegiatan terdiri atas beberapa materi yang disampaikan oleh berbagai pihak.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh perwakilan Komisi C DPRD Kota Semarang.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi kaitannya dengan teknik pembibitan mangrove yang disampaikan oleh Ferry A. Istiasmara (KENARI).
Ferry menyampaikan bahwa kegiatan pembibitan dimulai dengan memanen buah atau propagul dari spesies mangrove tertentu. Pemilihan buah atau propagul mangrove yang akan dibibitkan diusahakan dalam keadaan yang sudah matang atau siap untuk tumbuh. Kemudian, propagul tersebut dimasukkan ke dalam polybag yang sudah terisi media tanam dari substrat di sekitarnya.
“Pemilihan propagul untuk jenis Rhizophora atau bakau diusahakan sudah dalam keadaan matang dan siap untuk tumbuh. Hal ini ditandai dengan munculnya cincin pemisah antara buah dan batang propagul yang berwarna kuning,” jelas Ferry. “Pemilihan propagul ini akan memengaruhi keberhasilan dalam pembibitan bahkan hingga penanaman nanti. Harapannya pemilihan yang tepat di awal akan memperbesar keberhasilan rehabilitasi mangrove di pesisir. Setelah itu, propagul akan dibibitkan di lokasi yang terlindung di bawah induknya atau menggunakan bedeng penyemaian yang diberi atap paranet. Hal ini memungkinkan bibit tidak langsung terkena matahari secara terus menerus, tetapi masih terkena sinar matahari,” jelasnya lebih lanjut.
Kemudian, penyampaian materi dilanjutkan dengan teknik penanaman mangrove oleh Munhamir (KENARI). Ia menjelaskan bahwa penanaman mangrove di pesisir Kota Semarang dilakukan pada kawasan pasang surut yang sesuai dengan habitat alaminya, yang ditandai dengan keberadaan mangrove yang telah tumbuh di sekitarnya. Teknik penanaman dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik pesisir, salah satunya menggunakan sistem banjar harian dengan jarak tanam tertentu.
“Penanaman mangrove dilaksanakan pada lokasi yang sesuai dengan habitat mangrove itu sendiri. Hal ini ditandai dengan sudah adanya mangrove di sekitarnya. Kemudian, teknik penanaman mangrove dapat disesuaikan dengan kondisi pesisir di lokasi,” kata Munhamir. “Salah satu teknik yang digunakan adalah sistem banjar harian dengan jarak tanam tertentu yang pada penanamannya dibantu kayu penyangga atau biasa disebut ajir. Bibit kemudian diikatkan dengan tali pada ajir. Cara ini diterapkan karena wilayah pesisir memiliki kondisi yang dinamis. Keberadaan ajir membantu bibit mangrove tetap tegak menghadapi gelombang, sehingga peluang keberhasilan tumbuh menjadi lebih besar,” tambahnya.
Penyampaian terakhir disampaikan oleh IKAMaT yang diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang menyampaikan mengenai pengelolaan berbasis ekosistem dan sosial ekonomi dari suatu ekosistem mangrove.
Agape menyampaikan bahwa ekosistem mangrove memiliki banyak manfaat, di antaranya fungsi fisik, ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Hal ini yang menyebabkan peran mangrove sangat vital bagi wilayah pesisir dan lingkungan.
“Kegiatan rehabilitasi mangrove dilaksanakan sebagai upaya mengembalikan manfaat ekosistem mangrove yang sangat penting. Fungsi fisiknya membantu melindungi pesisir dari abrasi dan gelombang, kemudian secara ekologi, ekosistem amangrove merupakan habitat berbagai biota yang di antaranya adalah biota yang secara tidak langsung dimanfaatkan masyarakat sebagai nilai ekonomi,” ungkap Agape. “Secara langsung mangrove juga menghasilkan buah yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai olahan, seperti jajanan, batik, dan kopi mangrove. Produk tersebut juga sudah dapat ditemui di kawasan SMC Jateng, Semarang di Kelurahan Mangkang Wetan dan Mangunharjo ini,” tambahnya.
Kegiatan terakhir adalah diskusi dan tanya jawab dari para peserta kepada pemateri. Kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses, serta ditutup dengan dokumentasi bersama dengan para peserta.
Pelatihan ini menjadi upaya penting dalam mengenalkan manfaat ekosistem mangrove yang sangat besar bagi masyarakat dan lingkungan pesisir kepada generasi mendatang. Pengetahuan yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi selanjutnya untuk tetap melestarikan ekosistem pesisir, khususnya ekosistem mangrove. (ADM/ARH/ALA/AP).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar