FGD ini menjadi bagian dari upaya mengevaluasi hasil pelaksanaan program sekaligus menyusun pembelajaran (lesson learned) guna mendukung keberlanjutan program di masa mendatang.
Sebagai informasi, IKAMaT merupakan pelaksana Program Kajian Pembelajaran (Lesson Learned) Implementasi Program BwN di Demak yang sebelumnya dilaksanakan oleh Yayasan Lahan Basah pada periode 2015–2020.
Dalam kajian tersebut, IKAMaT melakukan pengumpulan dan analisis data melalui wawancara dengan sepuluh kelompok masyarakat, pengambilan data biofisik di lapangan, studi literatur, serta analisis penginderaan jauh (remote sensing) untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai implementasi dan dampak Program BwN di Demak.
Kegiatan yang dilaksanakan di Royal Hotel, Bogor ini diikuti oleh Yayasan Lahan Basah sebagai mitra, IKAMaT, dan lima perwakilan kelompok masyarakat penerima Program BwN.
Perwakilan kelompok masyarakat Program BwN, di antaranya:
1. Mat Sairi – Kelompok Barokah, Desa Timbulsloko
2. Nur Khamaidi – Kelompok Berkah Alam, Desa Surodadi
3. Abdul Ghofur – Kelompok Jaya Bakti, Desa Tambakbulusan
4. Abu Dawud – Kelompok Sido Makmur, Desa Betahwalang
5. Maskur – Kelompok Onggojoyo Jaya, Desa Wedung
IKAMaT pada kegiatan ini diwakili oleh Bagus R. D. Angga (Direktur Program), Nok Ayu N. (Tenaga Ahli Program), dan Alfian R. Hidayat (Staf Operasional Media).
Kegiatan diawali dengan penyampaian mengenai kajian dan hasil kajian yang telah dilaksanakan IKAMaT. Penyampaian pertama disampaikan oleh Bagus berkaitan dengan gambaran, tujuan, lokasi, cakupan, dan tahapan kajian program BwN.
Bagus menyampaikan bahwa program kajian mencakup penilaian terhadap tiga komponen program, yaitu struktur permeabel/hybrid engineering (HE), Budidaya Associated Mangrove Aquaculture (AMA) dan Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA), dan Bio-rights. Tahapan yang dilaksanakan mencakup tinjauan dokumen, analisis penginderaan jauh, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok.
“Program kajian yang dilaksanakan memiliki tujuan untuk menilai efektivitas, tingkat adopsi dan replikasi, dan keberlanjutan program. Kemudian, mengidentifikasi faktor kunci dan pembelajaran yang terdokumentasi. Kajian ini berfokus pada sepuluh kelompok dari sembilan desa di Kabupaten Demak,” jelas Bagus. “Metode pendekatan dalam kajian dilaksanakan dengan penginderaan jauh, studi literatur, wawancara mendalam, dan FGD yang dilaksanakan pada hari ini. Harapannya hasil dari kajian ini akan memberikan gambaran keberlanjutan program yang saat ini masih terasa dan rekomendasi selanjutnya,” tambahnya.
Kemudian, penyampaian kedua disampaikan oleh Nok Ayu yang menyampaikan hasil kajian mengenai keberlanjutan HE, AMA/LEISA, dan Bio-rights di sepuluh desa lokasi Program BwN.
“Hasil kajian menggambarkan keefektifan pada program dan kegiatan BwN, di mana dihasilkan informasi bahwa keefektifan dari HE di Desa Bedono dan Desa Timbulsloko memiliki nilai yang berbeda. Di mana HE di Desa Timbulsloko memiliki keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan Desa Bedono,” jelas Nok Ayu. “ Kemudian berkaitan dengan kegiatan budidaya dan Bio-rights terdapat kelompok yang masih secara konsisten melaksanakan kegiatan tersebut. Sebagian besar desa juga memiliki keaktifan dalam melaksanakan kegiatan tersebut di lingkup desa,” jelasnya lebih lanjut.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanggapan dari setiap pihak baik dari YLBA dan kelompok Program BwN.
Tanggapan, masukan, serta berbagai hasil diskusi yang diperoleh selama pelaksanaan FGD akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan laporan akhir kajian. Seluruh masukan dari peserta akan dikaji dan diintegrasikan dengan hasil analisis yang telah dilakukan agar laporan akhir dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif, akurat, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Laporan yang telah disempurnakan tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada YLBA sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus rekomendasi untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan implementasi Program BwN di Kabupaten Demak. (ADM/ARH/AP).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar