13.7.26

Sampaikan Hasil Kajian Potensi Lokasi Rehabilitasi Pantura Jateng, IKAMaT Narasumber FGD Penyusunan Dokumen RPPEM Jawa Tengah

Semarang - IKAMaT. Dalam rangka sebagai rangkaian dalam penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) di Jawa Tengah. Kemudian, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) kemudian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) berkaitan hal tersebut. Lebih lanjut, IKAMaT didaulat menjadi salah satu narasumber yang membahas mengenai potensi lokasi rehabilitasi mangrove. (19/6/2026). 

Kegiatan FGD dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di Ruang Rimbawan, DLHK Jateng, Semarang yang diikuti oleh para peserta baik secara daring maupun luring. Secara keseluruhan FGD akan membahas mengenai: 
1. Tantangan perubahan iklim dan arahan pengelolaan lanskap mangrove dalam merespon perubahan iklim; 
2. Potensi karbon biru pada mangrove; dan 
3. Potensi lokasi rehabilitasi. 

Ketiga poin di atas akan disampaikan oleh tiga narasumber dari lembaga yang berbeda mulai dari akademisi dan Non-Governmental Organization (NGO). 

Materi pertama disampaikan oleh perwakilan akademisi dari IPB University, yaitu Dr. Soni Trison yang membahas mengenai tantangan dari perubahan iklim itu sendiri dan bagaimana arahan pengelolaan mangrove dapat merespon atau mengurangi dampak dari perubahan iklim yang terjadi. 

Materi kedua disampaikan oleh perwakilan Seacrest Indonesia yang membahas mengenai potensi karbon biru pada ekosistem pesisir secara umum dan khsusunya pada eksosistem mangrove apabila dengan dibandingkan dengan eksosistem daratan. Ekosistem mangrove memilki kemampuan penyimpanan karbon yang besar. 

Sementara IKAMaT yang diwakili oleh Bagus R. D. Angga (Direktur Program), kemudian menyampaikan materi ketiga berkaitan dengan potensi lokasi rehabilitasi dari setiap desa di Provinsi Jawa Tengah. 

Bagus menyampaikan bahwa terdapat beberapa desa yang memiliki potensi dalam kegiatan rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove setelah dilaksanakan survei biofisik dan non-biofisik secara langsung ke desa-desa tujuan. Selain itu, dilaksanakan juga analisis melalui penginderaan jauh pada setiap desa tersebut. 

“Jawa Tengah memiliki potensi rehabilitasi dan konservasi mangrove yang besar, di mana penyebab degradasi terbesar dari ekosistem mangrove adalah alihfungsi lahan yang tidak memerhatikan keberlanjutan pesisir. Oleh karena itu, IKAMaT mencoba melakukan kajian mengenai lokasi yang berpotensi untuk direhabilitasi menjadi eksostem mangrove yang dapat menjadi pelindung sekaligus tempat hidup berbagai biota laut,” jelas Bagus. “ Kajian dilaksanakan dengan survei secara langsung ke desa-desa yang memiliki tata ruang yang sesuai untuk kegiatan rehabilitasi mangrove, kemudian dilakukan pengambilan data secara biofisik dan non-biofisik, serta wawancara ke stakeholder terkait. Selain itu, dilakukan juga analisis menggunakan penginderaan jauh untuk menunjang potensi yang ada,” tambahnya. 

Kajian ini merupakan hasil dari Mangrove Conservation and Rehabilitation Project (MCRP), kerja sama antara IKAMaT dan PT Djarum. 

Kajian ini dilakukan melalui proses analisis menggunakan metode skoring dan pembobotan terhadap berbagai faktor dari hasil temuan, seperti biofisik, non-biofisik, sosial, ekonomi, dan pendukung lainnya yang ditemukan di setiap lokasi. 

Hasil kajian tersebut menghasilkan daftar desa-desa yang diprioritaskan sebagai lokasi rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat potensi dan kelayakannya. Temuan ini menjadi landasan yang kuat dalam menyusun program rehabilitasi dan konservasi mangrove yang lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan. 

Selain itu, hasil kajian juga dapat menjadi acuan bagi pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan serta pelestarian ekosistem mangrove yang lebih baik di Jawa Tengah. 

Setelah semua materi disampaikan, acara selanjutnya dilanjutkan dengan diskusi berkaitan materi yang telah disampaikan dengan pembagian menjadi tiga kelompok yang dibagi dari berbagai pemangku kepentingan di kabupaten bagian barat Jawa Tengah. 

Acara ditutup dengan rekomendasi dari hasil diskusi yang kemudian akan menjadi bahan penunjang dalam penyusunan RPPEM Jawa Tengah. 

FGD ini menjadi wadah untuk menyatukan perspektif berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung penyusunan dokumen RPPEM Jawa Tengah yang berbasis data dan kondisi lapangan. 

Melalui masukan dari akademisi, organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya, diharapkan dokumen RPPEM dapat menjadi pedoman yang komprehensif dalam upaya perlindungan, rehabilitasi, dan pengelolaan ekosistem mangrove di Jawa Tengah. 

Bagi IKAMaT, kesempatan untuk berkontribusi dalam forum ini merupakan bentuk komitmen untuk terus mendukung pengambilan kebijakan berbasis kajian ilmiah. Melalui hasil MCRP, IKAMaT berharap informasi mengenai potensi lokasi rehabilitasi mangrove dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan program yang lebih efektif, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Jawa Tengah. 

Dengan sinergi seluruh pihak, rehabilitasi mangrove tidak hanya mampu memulihkan kawasan pesisir yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir secara berkelanjutan. (ADM/ARH/BRDA/AP).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar