Mahasiswa Magister tersebut adalah Mida Mardhiyyah, seorang mahasiswa Magister Antropologi Budaya, UGM, sekaligus penulis dan peneliti berkaitan dengan feminisme dan gender.
Mida menyampaikan ucapan terima kasih karena telah diterima di Sekretariat IKAMaT dengan hangat. Ia berharap dapat berdiskusi banyak bersama IKAMaT mengenai antropologi sosial di masyarakat pesisir dan berbagai program lingkungan yang telah dilaksanakan IKAMaT yang menyasar atau melibatkan masyarakat pesisir di dalamnya.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Paspha G. M. Putra (Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan), Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan).
Dalam sesi diskusi, Paspha memaparkan berbagai kegiatan dan program IKAMaT yang melibatkan masyarakat pesisir di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah (Jateng), khususnya di wilayah Sayung, Demak dalam rangka memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat serta manfaat lingkungan bagi ekosistem di pesisir Pantura Jateng.
Pelaksanaan kegiatan dan program tersebut berlandaskan pada empat pilar utama IKAMaT, yakni pendampingan penanaman dan pemantauan mangrove, pemberdayaan masyarakat pesisir melalui peningkatan kapasitas dan penguatan ekonomi lokal, riset mangrove sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data, serta pengembangan industri kreatif berbasis mangrove yang berorientasi pada keberlanjutan. Melalui keempat pilar ini, IKAMaT berupaya mewujudkan solusi alam yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak jangka panjang bagi ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat.
“Beberapa program yang dilaksanakan oleh IKAMaT adalah upaya pelestarian dan rehabilitasi ekosistem pesisir, khususnya ekosistem mangrove serta riset dan pemberdayaan masyarakat pesisir berkaitan dengan ekosistem mangrove. Salah satu kegiatan yang kami laksanakan di Sayung, Demak adalah KeSEMaT bekerja sama dengan Wetlands Internasional Indonesia Programme (WIIP),” jelas Paspha. “Dalam setiap kegiatan kami, kami selalu melibatkan masyarakat pesisir sebagai pemegang peran utama sehingga nantinya masyarakat pesisir akan merasa memiliki program yang telah dijalankan,” lanjutnya.
Bambang dan Agape juga menambahkan berbagai pengalaman mereka saat terjun langsung ke lapangan dan berdiskusi bersama masyarakat pesisir, khususnya dalam kegiatan rehabilitasi, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir.
Selain itu, IKAMaT beserta unit bisnis dan afiliasinya terus mendorong dan mendukung pengembangan industri kreatif berbasis mangrove sebagai sarana edukasi dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan keberlanjutan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Agape juga menyampaikan bagaimana pengalaman KeSEMaT sebagai afiliasi IKAMaT dalam mendampingi masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir yang sudah dimulai tahun 2012. Warga binaan KeSEMaT hingga saat ini antara lain, Srikandi Pantura yang berfokus pada olahan batik mangrove, Bina Citra Karya Wanita yang berfokus pada olahan jajanan mangrove, dan Arjuna Berdikari yang berfokus pada kopi mangrove.
Seluruh agenda diskusi dan pertemuan yang dimulai pada pukul 10.00 hingga 12.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar, yang diakhiri dengan foto bersama. (ADM/ARH/PGMP/BJL/AP).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar