Seminar ini diselenggarakan sebagai platform bagi negara-negara anggota ASEAN untuk berbagi informasi mengenai temuan penelitian dan praktik kegiatan ekonomi dari kawasan hutan mangrove, serta praktik pengelolaan yang baik terkait konservasi ekosistem mangrove yang dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah, peneliti, Non-Governmental Organization (NGO), dan pihak swasta di ASEAN.
Pada kegiatan ini IKAMaT diwakili oleh Paspha G. M. Putra (Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan).
Seminar dibuka dengan sambutan dari Dr. Nyoto Santoso, Koordinator Proyek Mangrove Ecosystem Management di kawasan ASEAN, dilanjutkan dengan upacara pembukaan yang dipimpin oleh YBrs. Nadzmin binti Ahmad Nazir, sebagai perwakilan Ministry of Natural Resources and Environmental Sustainability (NRES), Malaysia.
Seminar dilanjutkan pemaparan yang disampaikan oleh YBhg. Dato' Ahmad Fadzil bin Abdul Majid dan Dr. Ristiyanto Pribadi, Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan, Indonesia yang memaparkan pengelolaan ekosistem mangrove dari perspektif Indonesia dan Malaysia.
Dr. Ristiyanto menyampaikan bahwa kelestarian ekosistem mangrove membuka berbagai peluang ekonomi yang dapat mendorong terbentuknya industri mangrove berkelanjutan, seperti ekowisata dan perikanan berkelanjutan melalui skema silvofishery.
Selain itu, potensi lain yang menjanjikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim adalah pengembangan kredit karbon mangrove, yang memungkinkan kegiatan konservasi dan restorasi ekosistem mangrove menghasilkan kredit karbon untuk diperdagangkan di pasar internasional.
“Melalui Jaringan Mangrove ASEAN ini mari kita bersama-sama bekerja sama untuk memastikan ekosistem mangrove terus berkembang dan tetap terjaga kelestariannya,” jelas Dr. Ristiyanto. “Ekosistem mangrove memiliki manfaat yang sangat besar dalam hal ini memberikan manfaat bagi masyarakat, serta berkontribusi dalam upaya global menghadapi perubahan iklim,” pungkasnya.
Pada seminar ini juga disampaikan mengenai hasil penelitian, pengembangan usaha, konservasi, dan pelibatan swasta dan komunitas dalam usaha pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan dari berbagai negara di ASEAN.
Seminar dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Paspha G. M. Putra, yang mewakili IKAMaT dan Indonesia, mengajukan pertanyaan mengenai konsep akuakultur yang dipadukan dengan ekosistem mangrove, yaitu silvofishery, khususnya terkait penerapan konsep pembuatan kanal dan pasang surut di dalam kawasan mangrove sebagai bagian dari sistem tersebut.
Pada hari kedua, peserta kemudian mengunjungi pusat edukasi ekosistem mangrove di Malaysia, yaitu di Matang Mangrove Forest Eco Education Center yang dikelola oleh Perak State Forestry Departement, Malaysia sebagai hutan mangrove terbesar di Semenanjung Malaysia seluas 40.000 ha.
Tempat ini menjadi pusat edukasi berkaitan dengan hutan mangrove dengan dilengkapi trekking mangrove sepanjang lebih dari 1 km.
Kemudian, dilanjutkan dengan mengunjungi kilang arang yang menerapkan sistem berkelanjutan dalam pemanfaatan kayu mangrove sebagai bahan baku arang.
Para peserta selanjutnya kembali ke Kuala Lumpur yang menandai ditutupnya kegiatan jejaring AMNet yang diselenggarakan di Malaysia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari jejaring mangrove di kawasan ASEAN yang bertujuan untuk mendorong pengelolaan mangrove secara berkelanjutan guna menjaga keseimbangan ekosistem serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. (ADM/ARH/PGMP/AP).





Tidak ada komentar:
Posting Komentar