4.9.23

Belajar Pemberdayaan Masyarakat, Produk Olahan dan Manajemen Pengelolaan Mangrove, Yayasan Planet Urgensi Indonesia Studi Banding ke Area Kerja IKAMaT di SMC Jateng

Semarang - IKAMaT. IKAMaT kembali menerima kegiatan studi banding mitra kerjanya, kali ini dari Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI) Samarinda, Kalimantan Timur. YPUI merupakan yayasan yang fokus bekerja pada isu lingkungan hidup berkelanjutan, salah satunya ekosistem mangrove. Tujuan dari kegiatan ini adalah, YPUI ingin belajar manajemen IKAMaT dalam melakukan pengelolaan mangrove dan pemberdayaan masyarakatnya di kawasan pesisir Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng), berikut kunjungan ke warga binaan KeSEMaT yang mengolah aneka olahan berbahan dasar bukan kayu, yaitu jajanan, batik dan kopi mangrove. (8-9/8/2023).

Kunjungan ke Lokasi Pembibitan, Penanaman dan Pemantauan Mangrove
Hari pertama, IKAMaT mendampingi YPUI berkunjung ke SMC Jateng untuk melihat kebun persemaian dan pembibitan mangrove, berikut lokasi penanaman dan pemantauannya. Rombongan juga melakukan studi banding ke warga binaan KeSEMaT, yang mengolah batik, jajanan dan kopi mangrove berlabel Mas Bamat, Mbak Jamat dan Kopi Arjuna.

Anwar Nuardi (Ketua Kelompok Ngebruk Lestari - KENARI) membagikan pengalamannya selama bekerja sama dengan IKAMaT dan KeSEMaT dalam hal pembibitan, penanaman dan pemantauan mangrove, yang dilakukannya di SMC Jateng kepada YPUI.

“Pembibitan mangrove di SMC Jateng kami lakukan secara alami, dengan cara menggunakan pohon indukan sebagai naungannya. Penyiramannya juga alami, hanya mengandalkan pasang surut air laut,” jelas Anwar. “Kami juga memantau pertumbuhan bibit mangrove dari serangan hama serangga dan kepiting,” jelasnya lebih lanjut.

Anwar menambahkan bahwa penanaman mangrove dapat dilakukan di pematang tambak maupun di hamparan dekat pantai. Penanaman mangrove di pematang tambak dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat tanah pematang. Selain itu, mangrove yang tumbuh di pinggir tambak juga akan dapat memberikan manfaat lain, seperti tempat memijah, mencari makan dan hidup biota laut.

Melihat Batik, Mencicipi Jajanan, Cendol dan Kopi Mangrove
Selepas berkunjung ke Anwar, rombongan menemui Mufidah (Ketua Kelompok Srikandi Pantura dan Bina Citra Karya Wanita) untuk mengetahui skema pembedayaan masyarakat yang dilakukan oleh IKAMaT dan KeSEMaT dalam hal memanfaatkan mangrove dari sisi ekonomi, untuk bahan pangan dan pewarna batik.

Mufidah berbagi pengalamannya dalam mengolah jajanan dan batik dari mangrove, sejak tahun 2012. YPUI terlihat antusias pada saat mendengarkan penjelasan mengenai hal tersebut, sembari mencicipi kerupuk dan cendol mangrove yang dihidangkan.

“Jajanan ini berasal dari tepung buah mangrove dari jenis Lindur. Kami rendam dan cuci bersih untuk menghilangkan rasa pahitnya, kemudian kami giling untuk mendapatkan tepungnya,” terang Mufidah. “Tepung mangrove ini bisa diolah menjadi cendol, kerupuk, stik, bolu mangrove dan lain-lain, kemudian kami jual. Untuk batik, kami menggunakan propagul mangrove yang busuk dan telah jatuh ke tanah. Kami rebus propagul itu, kemudian kami jadikan pewarna alami dari mangrove,” terangnya lebih lanjut.

Kunjungan dilanjutkan ke kediaman Ferry Agung Istiasmara (Ketua Kelompok Arjuna Berdikari) yang mengolah kopi mangrove. Ferry menyampaikan bahwa kopi mangrove yang diolah bersama dengan kelompoknya merupakan minuman kopi yang beraasl dari campuran serbuk kopi Robusta yang ditambahkan dengan serbuk mangrove dari buah mangrove jenis Rhizophora, dengan perbandingan 1:1.
“Lebih enak diminum tanpa gula agar lebih terasa keunikannya. Kopi mangrove kami, cocok sekali untuk menambah vitalitas pria. Makanya, sering disebut sebagai kopi malam Jumat,” tutur Ferry.

Vivit Havita (Environmental Education and Campaign Officer YPUI) menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan ketiga produk olahan dari mangrove tersebut di Kalimantan Timur, mengingat prospek kedepannya yang sangat cerah.

“Kami tertarik mengembangkan kopi, batik dan jajanan mangrove yang sudah dikembangkan oleh warga binaan KeSEMaT di SMC Jateng ini, ke Kalimantan Timur, agar kami juga dapat memperoleh tambahan penghasilan dari budi daya mangrove,” ungkap Vivit.

Reonaldus (Direktur YPUI) menyampaikan rasa kagumnya terhadap kegiatan IKAMaT di SMC Jateng, mulai dari pembibitan, penanaman, pemantauan dan pengolahan produk bukan kayu mangrove.

“Ada perbedaan wilayah dan budaya antara Jawa Tengah dengan Kalimantan Timur. Tapi, nanti akan kami coba terapkan skema yang sudah kami pelajari dari IKAMaT di SMC Jateng ke Samarinda,” ujar Reonaldus.

Berbagi Pengalaman di Focus Group Discussion (FGD)
Hari kedua, IKAMaT dan YPUI bertemu di Teratai Meeting Room, Grasia Hotel, Semarang untuk melakukan FGD, yang dimulai dari pukul 08.00 - 13.00 WIB. FGD menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Aris Priyono (Pendiri KeSEMaT) dan Ganis Riyan Efendi (Direktur Utama IKAMaT) yang dimoderatori oleh Paspha Ghaishidra Muhammad Putra (Manajer Program dan Lapangan).

Acara diawali dengan sambutan-sambutan yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh kedua narasumber.

Aris menyampaikan materi mengenai pengembangan literasi dan industri mangrove. Aris menjelaskan bahwa kerusakan hutan mangrove di Indonesia disebabkan oleh faktor ekonomi, oleh sebab itu pengembangan literasi dan industri mangrove yang ramah lingkungan harus mulai diinisiasi dan dilakukan. Untuk itulah, Aris kemudian mencoba mewujudkannya dengan pembentukan lembaga mangrove dan produk kreatif mangrove, diantaranya KeSEMaT, IKAMaT, KeMANGTEER, KeMANGI, KeAMaT, Mangrove Tag, Adopsi Mangrove, MANGROVEMAGZ dan lain-lain.

“Pergeseran paradigma masyarakat pesisir terhadap mangrove sudah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia," terang Aris. "Sebagai bentuk adaptasi mereka, maka masyarakat pesisir mencoba bertahan di wilayah mereka yang tidak menguntungkan, dengan cara memanfaatkan mangrove sebagai pewarna batik, jajanan dan kopi mangrove untuk menambah penghasilan," terangnya lebih lanjut.

Selanjutnya, Ganis menyampaikan materi mengenai adaptasi masyarakat dalam menghadapi kerusakan pesisir yang diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti penurunan tanah, naiknya permukaan laut dan alih-fungsi lahan mangrove.

“Pendekatan bottom up kepada masyarakat adalah salah satu cara dalam melakukan adaptasi perubahan iklim untuk mencegah kerusakan pesisir semakin bertambah luas,” jelas Ganis. “Sebagai contoh, kami pernah mengelola Maroon Mangrove Edu Park atau MMEP di Semarang. MMEP sebelumnya adalah area tambak yang sudah mengalami penurunan produktivitas. Bersama dengan kelompok masyarakat setempat, kami berhasil melakukan transformasi menjadi kawasan ekoeduwisata mangrove yang dapat menjadikannya alternatif pendapatan,” tambahnya.

Selesai pemaparan dari kedua narasumber, acara dilanjutkan dengan diskusi. YPUI menjelaskan mengenai beberapa proyek rehabilitasi mangrove yang sudah mereka kerjakan di Kalimantan Timur, dimana belum terdapat pengembangan mangrove dari sisi ekonomi secara optimal.

"Terima kasih kepada YPUI, yang sudah jauh-jauh datang dari Kalimantan Timur ke Semarang," ungkap Bagus R. D. Angga (Direktur Program). "Kami juga banyak belajar dari YPUI dalam proyek pengelolaan mangrove di Kalimantan. Kami mempelajari bahwa budaya di Semarang dan Samarinda sangat berbeda, untuk itulah, hal-hal yang sudah disampaikan oleh YPUI dapat menjadi pelajaran terbaik kami, sebagai referensi pengelolaan mangrove kami di masa mendatang," ungkapnya lebih lanjut.  

Keseluruhan acara yang berlangsung selama dua hari berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan beberapa kesimpulan dan rekomendasi serta foto bersama. (PGMP/BJL/ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar