Dalam kunjungan ini, jurnalis yang mengunjungi dan berdiskusi dengan IKAMaT dan KeSEMaT adalah Ahmad Effendi, yang dalam profilnya di media Mojok.co merupakan seseorang yang menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.
Dalam kunjungannya jurnalis tersebut, kemudian disambut oleh IKAMaT bersama KeSEMaT yang bersama-sama membangun, menyelamatkan, dan meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove dan pembangunan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.
Kunjungan dan diskusi ini membahas mengenai pentingnya ekosistem mangrove bagi wilayah pesisir dan secara khusus membahas mengenai pemanfaatan mangrove bukan kayu sebagai bentuk ketahanan pangan di pesisir.
Diskusi pertama dimulai dengan pembahasan mengenai manfaat dan fungsi mangrove bagi wilayah pesisir baik secara fisik, ekologi, maupun sosial budaya dan proses rehabilitasi yang dilakukan untuk melindungi wilayah pesisir Semarang khususnya yang terdegradasi karena abrasi.
Aris Priyono (Direktur Teknologi Informasi) menyampaikan bahwa pesisir di wilayah Semarang telah mengalami degradasi yang sangat signifikan sehingga wilayahnya dan garis pantainya mengalami kemunduran. Aris juga menyampaikan bahwa kesadaran untuk menjaga ekosistem mangrove tumbuh seiring dengan rusaknya wilayah pesisir dan proyek rehabilitasi berbasis komunitas yang dilaksanakan secara berkolaborasi.
“Pada awalnya, kami melaksanakan kegiatan rehabilitasi ekosistem mangrove bersama masyarakat melalui penanaman dan pemantauan mangrove guna mendukung pemulihan ekosistem pesisir serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian mangrove. Hingga saat ini banyak pihak yang berkolaborasi untuk melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove di kawasan tersebut,” jelas Aris. “Kemudian, dengan mulai tumbuhnya ekosistem mangrove yang sebelumnya mengalami degradasi, masyarakat yang sebelumnya memanfaatkan mangrove bukan kayu secara konvensional, mulai mengenal pengolahan dan pemanfaatan sebagai bahan pangan maupun kerajinan yang bernilai ekonomi,” tambahnya.
Aris juga menjelaskan mengenai kawasan yang dibangun kemudian bertansformasi menjadi pusat rehabilitasi mangrove bernama Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng), kemudian juga menjadi kawasan pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mangrove dikarenakan keberhasilan bersama masyarakat yang telah dilakukan. Kawasan ini juga kemudian dikenal sebagai Sentra Produk Olahan Mangrove (SPOM) Semarang.
Dalam sesi diskusi juga dibahas mengenai perjalanan KeSEMaT dan IKAMaT dalam pengembangan ekonomi sirkular di kawasan tersebut bersama dengan mitra binaan dalam membangun produk yang bernilai jual dari mangrove bukan kayu. Produk tersebut di antaranya adalah Jajanan Mangrove berupa kerupuk, peyek, stik, hingga cendol mangrove yang diolah dari tepung mangrove dengan nama Mbak Jamat yang diproduksi oleh Kelompok Bina Citra Karya Wanita.
Kemudian batik mangrove yang diwarnai menggunakan pewarna alami mangrove dengan merek Mas Bamat dan diproduksi oleh Kelompok Srikandi Pantura, serta Kopi Mangrove Arjuna berupa perpaduan antara buah mangrove dan kopi Robusta yang menciptakan cita rasa unik yang diolah oleh Kelompok Pengolah Kopi Mangrove Arjuna.
Secara tidak langsung, mangrove juga menyimpan potensi pangan yang sangat besar, di dalam ekosistemnya tumbuh produk perikanan yang menjadi sumber pangan dan ekonomi bagi masyarakat di wilayah pesisir. Hal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa ekosistem mangrove menyimpan potensi yang sangat besar dibalik manfaatnya sebagai pelindung pesisir.
Diskusi ditutup dengan berbagai riset mengenai ekosistem mangrove yang di antaranya mengungkapkan bahwa ekosistem mangrove dapat menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan biasa, potensi pangan dari ekosistem mangrove, hingga korelasi angka stunting dan keberadaan ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
Kunjungan dan diskusi bersama jurnalis Mojok.co tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan lebih jauh berbagai manfaat dan potensi ekosistem mangrove, khususnya yang berkembang di kawasan pesisir Semarang. Mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai pelindung wilayah pesisir, tetapi juga menyimpan potensi pemanfaatan yang dapat mendukung kehidupan dan perekonomian masyarakat melalui pengelolaan yang berkelanjutan.
Pengalaman rehabilitasi yang dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat juga menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem mangrove dapat berjalan seiring dengan pengembangan pemanfaatan mangrove bukan kayu. Berbagai produk olahan dan kegiatan ekonomi yang berkembang di kawasan SMC Jateng, Semarang dan SPOM Semarang menjadi bagian dari proses membangun hubungan yang lebih berkelanjutan antara masyarakat dan ekosistem mangrove.
IKAMaT bersama KeSEMaT akan terus mendorong upaya pelestarian dan pemanfaatan ekosistem mangrove secara berkelanjutan melalui kolaborasi, edukasi, riset, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui kunjungan dan diskusi dengan berbagai pihak, termasuk media, pengetahuan mengenai pentingnya mangrove diharapkan dapat semakin luas diketahui masyarakat sehingga kepedulian terhadap ekosistem pesisir dapat terus tumbuh dan berkembang. (ADM/ARH/AP).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar