26.10.26

Diskusi Berkaitan Nature-based Solution, Mahasiswa Doktoral UCLA Luskin School of Public Affairs Kunjungi IKAMaT dan SMC Jateng, Semarang

Semarang - IKAMaT. Dalam rangka diskusi dan kunjungan, IKAMaT kembali menerima kunjungan di Sekretariat IKAMaT, serta kemudian dilanjutkan ke Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng) untuk observasi dan wawancara langsung ke kelompok lokal. Kali ini dari Mahasiswi Doktoral Urban Planning, UCLA Luskin School of Public Affairs. Dalam kunjungan ini, IKAMaT dan mahasiswi tersebut berdiskusi mengenai penelitian yang akan dilaksanakan terkait Nature-based Solution (NbS), stakeholder terkait di Jawa Tengah, dan bentuk kolaborasi dan komunikasi dengan kelompok lokal. (10/9/2026). 

Kunjungan ke Sekretariat IKAMaT 
Mahasiswa Doktoral tersebut adalah Mita Salim, seorang mahasiswi Doktoral di Jurusan Urban Planning, UCLA Luskin School of Public Affairs, Amerika Serikat, yang sedang melaksanakan penelitian mengenai pengelolaan dan perencanaan tata ruang di wilayah pesisir. 

Kunjungan ini disambut oleh Bagus R. D. Angga (Direktur Program) dan Paspha G. M. Putra (Manajer Keuangan dan Operasional). Keduanya menerima kunjungan sekaligus mengikuti diskusi yang berlangsung dalam kunjungan tersebut. 

Dalam diskusi tersebut, Mita Salim menggali informasi mengenai penerapan pendekatan NbS dalam pengelolaan wilayah pesisir di Jawa Tengah. Pembahasan mencakup peran berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) dalam mendukung upaya konservasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir, serta bentuk kerja sama IKAMaT dengan kelompok masyarakat setempat, termasuk melalui kegiatan pendampingan dan peningkatan kapasitas masyarakat. 

Melalui diskusi ini, IKAMaT turut memaparkan pengalaman dan berbagai program pengelolaan wilayah pesisir melalui rehabilitasi ekosistem mangrove yang dilaksanakan oleh Mangrove Tag. Sebagai platform dan unit yang dikembangkan oleh IKAMaT, Mangrove Tag menerapkan berbagai strategi dan metode dalam mendukung kegiatan penanaman, pemantauan, dan evaluasi mangrove guna meningkatkan keberhasilan rehabilitasi ekosistem pesisir secara berkelanjutan. 

“Dalam hal ini, kami melaksanakan program rehabilitasi mangrove dengan kegiatan pendampingan penanaman dan pemantauan bibit mangrove kepada mitra dengan bentuk kolaborasi sebagai salah satu platform yang kami kembangkan. Platform tersebut memiliki tiga program utama, di antaranya Tebus Karbon, Tanam Pantau, dan Adopsi Mangrove,” papar Bagus dan Paspha. “Selain itu strategi dan metode yang dikembangkan memungkinkan keberhasilan rehabilitasi akan lebih tinggi. Platform juga menyediakan situs web yang berisi publikasi dan data pemantauan yang dapat dipantau secara berkala,” tambah mereka. 

Melalui diskusi ini juga, Mita Salim memperoleh gambaran mengenai pengalaman IKAMaT dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mendampingi kelompok masyarakat, dan melaksanakan program NbS. Informasi tersebut diharapkan dapat mendukung penelitian yang sedang dilakukannya mengenai penerapan NbS, khususnya dalam memahami peran pemangku kepentingan dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir di Jawa Tengah. 

Observasi Lapangan dan Wawancara ke SMC Jateng, Semarang 
Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan observasi lapangan dan kunjungan ke masyarakat pesisir di kawasan SMC Jateng, Semarang. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan wawancara langsung terkait kondisi ekosistem mangrove serta pengelolaannya sebagai bagian dari upaya NbS di wilayah tersebut. 

Kunjungan ke kawasan SMC Jateng, Semarang didampingi oleh Fitriya A. Setyani (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dengan kegiatan pertama mengunjungi kawasan di sekitar SMC Jateng, Semarang, kemudian dilanjutkan ke kediaman Munhamir selaku anggota Kelompok Ngebruk Lestari (KENARI) yang merupakan kelompok pegiat mangrove di sana. 

Kemudian, kegiatan kunjungan dan wawancara dilanjutkan ke kediaman ketua Kelompok Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura, yaitu Mufidah serta kediaman ketua kelompok Arjuna Berdikari, yaitu Ferry A. Istiasmara. Kelompok tersebut merupakan kelompok pengolah yang memanfaatkan hasil hutan mangrove bukan kayu menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan membentuk ekonomi alternatif baru di pesisir. 

Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menggali informasi mengenai pengembangan usaha berbasis potensi lokal sebagai alternatif sumber pendapatan masyarakat pesisir, sekaligus memahami keterkaitan antara pelestarian ekosistem mangrove dan penguatan ekonomi masyarakat. 

Seluruh agenda observasi lapangan dan wawancara yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana diskusi antara IKAMaT, akademisi, dan masyarakat, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kelestarian serta menambah pengetahuan baru mengenai ekosistem mangrove di Indonesia. (ADM/ARH/PGMP/AP).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar