25.7.22

IKAMaT Lakukan Pemantauan dan Kajian Valuasi Ekosistem Mangrove di Kabupaten Pandeglang, Banten

Pandeglang - IKAMaT. IKAMaT bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk telah melakukan kegiatan Pemantauan dan Kajian Valuasi Ekosistem Mangrove di Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi terbaru di Kawasan Ekowisata Lembur Mangrove, Citereup. (10-12/5/2022)

Adapun topik pemantauan ekosistem mangrove terdiri dari kondisi kesehatan mangrove, kelimpahan dan komposisi fauna (herpetofauna, mamalia dan burung) serta estimasi cadangan karbon dan bahan organik. Sementara itu, topik kajian valuasi ekosistem mangrove terdiri dari perhitungan nilai ekonomi manfaat langsung dan tidak langsung.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, juga telah didapatkan rekomendasi yang tepat bagi pengembangan Ekowisata Lembur Mangrove.

“IKAMaT, sebelumnya sudah pernah melakukan penelitian serupa di Semarang. Maka dari itu, PT Chandra Asri, selaku mitra kami, mempercayakan pengerjaan riset yang serupa kepada kami, untuk melakukan penelitian di Pandeglang,” ujar Ganis Riyan Efendi (Direktur Utama).

Sebagai informasi, kegiatan pemantauan mangrove merupakan hal yang harus dilakukan, terutama bagi perusahaan ingin mengembangkan ekosistem mangrove di wilayahnya secara menyeluruh. Pengelolaan mangrove yang tidak tepat cenderung memaksakan habitat aslinya, sehingga dapat membuat mangrove tersebut rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Setelah saya berkunjung ke Ekowisata Lembur Mangrove, ternyata banyak jenis mangrove Avicennia marina yang hidup. Jenis ini, sepertinya jenis perintis yang tumbuh pada daerah ini, sehingga dapat tumbuh subur,” ujar Paspha G. M. Putra (Manajer Humas), selaku koordinator tim  riset mangrove.

Bagus R. D. Angga (Direktur Program), selaku koordinator tim GIS menambahkan bahwa melihat dari luasan mangrove yang saat ini kurang lebih 3 hektar, Kawasan Ekowisata Lembur Mangrove memiliki potensi untuk dikembangkan pengelolaannya kearah yang lebih luas lagi.

"Masih ada lahan kosong apabila dilihat dari citra satelit, yang dapat ditanam dengan bibit mangrove,” ujar Bagus.

Hasil dari kegiatan pemantauan ini, akan dilaporkan dalam bentuk laporan dan jurnal, dengan harapan dapat menjadi referensi bagi masyarakat di Pandeglang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, agar masyarakat dapat secara bersama-sama menjaga mangrovenya, mengingat dengan berkurangnya mangrove maka akan membuat kerugian bagi banyak pihak. (ADM/FAN).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar