18.7.23

IKAMaT Kembali Lakukan Pendampingan Penelitian Building with Nature kepada Mahasiswa S2 Universitas Bremen, Jerman

Demak - IKAMaT. IKAMaT kembali melakukan kegiatan pendampingan penelitian Building with Nature (BwN) kepada Christian Rinner (Chris), seorang mahasiswa S2 dari Universitas Bremen, Jerman. Penelitian lanjutan yang dilakukan di Betahwalang dan Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah ini dilakukan untuk mengetahui kesuksesan program BwN di daerah tersebut dan mengetahui pengaruhnya terhadap kehidupan warga pesisir di Betahwalang dan Timbulsloko. (4-5/7/2023).

Pada hari pertama, mulai dari pagi hingga siang hari, Bambang Jati Laksono (Staf Manajer Humas) dan Chris berkunjung ke kediaman Abu Daud (Sekretaris Kelompok Sidomakmur) di Betahwalang. Kedatangan Chris dan IKAMaT disambut hangat oleh Kelompok Sidomakmur.

Abu mengatakan bahwa kelompok Sidomakmur terbentuk untuk menjalankan beberapa program dari Wetlands International Indonesia, termasuk BwN.

“Kami sudah berdiri sejak tahun 2015 dan mengerjakan program BwN bersama Wetlands hingga sekarang,” kata Abu. “Target awal BwN hanya pengembalian lahan sebesar 3,7 ha tetapi hingga sekarang bahkan pengembalian lahan sudah mencapai 20 ha,” lanjutnya.

Program BwN di Betahwalang dilakukan dengan cara pembangunan sabuk hijau dengan menggunakan jaring ikan yang diikat pada tiang bambu. Sedimen akan terperangkap dan menghasilkan tanah baru yang ditumbuhi mangrove secara alami.

“Pemasangan sabuk hijau pertama, kami lakukan pada tahun 2017 dan sukses merangkap sedimen, hingga akhirnya kami memasang sabuk hijau kedua pada tahun 2018, dan ketiga pada tahun 2019, hingga akhirnya mencapai 20 ha lahan,” terang Ahmad Busyro (Ketua Kelompok Sidomakmur). “Kami juga baru saja melakukan pemasangan sabuk hijau keempat sepanjang 3 km,” tambahnya.

Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa proyek BwN mengubah Betahwalang menjadi lebih baik karena berhasil mengembalikan kawasan mangrove, menahan ombak dan mencegah abrasi pantai.

Pada hari kedua, mulai dari siang hingga sore hari, Bambang dan Chris berkunjung ke kediaman Slamet (Anggota Kelompok Barokah) di Timbulsloko. Slamet menginformasikan mengenai perubahan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah adanya proyek BwN di Timbulsloko.

“Dulu, kawasan tambak saya adalah tanah yang bisa ditanami pisang dan ketela. Jadi, kawasan pesisirnya sangat jauh. Sekarang, pesisir kami tergerus abrasi dan juga terjadi penurunan tanah yang ekstrim,” kisah Slamet. “Adanya proyek BwN mengubah Timbulsloko menjadi sedikit lebih baik, karena berhasil merangkap sedimen dan melindungi kawasan pesisirnya dari ombak maupun abrasi,” lanjutnya.

Chris mengungkapkan bahwa dua wilayah yang dikenakan proyek BwN dapat merangkap sedimen dan memberikan manfaat untuk warga pesisirnya. Keseluruhan kegitan berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan foto bersama. (ADM/AP/BJL).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar