Melalui kegiatan ini, para pemenang tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga berkontribusi secara langsung dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman mangrove, kunjungan ke pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengelolaan limbah, serta penyelenggaraan kelas edukasi.
Rangkaian pertama adalah kegiatan edukasi di SD Negeri Mangkang Wetan 01 yang dilaksanakan setelah rangkaian kegiatan penanaman dan pemantauan 150 bibit mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng).
Kegiatan edukasi ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan Aksi, yaitu Aksi Edukasi.
Kegiatan edukasi berisi mengenai pengenalan mengenai cita-cita dan penggalian rasa memiliki impian pada siswa-siswi kelas 4 dan 5 SD Negeri Mangkang Wetan 01, setelah materi kegiatan dilanjutkan dengan games dan penempelan kertas impian pada pohon impian yang telah disediakan.
Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke SPOM Semarang yang merupakan pusat produk olahan mangrove bukan kayu di Semarang yang dirintis dan dibangun oleh KeSEMaT sebagai afiliasi IKAMaT yang bekerja sama dengan PT PLN Indonesia Power Wilayah Jakarta dan Semarang sejak tahun 2012 yang juga berlokasi di wilayah SMC Jateng, Semarang.
1. Arjuna Berdikari, merupakan kelompok pengolah kopi mangrove dengan memanfaatkan buah mangrove jenis bakau dan kopi robusta dengan merek Kopi Mangrove Arjuna.
2. Bina Citra Karya Wanita, merupakan kelompok pengolah jajanan berbahan dasar buah mangrove, seperti tepung, stik, kerupuk, cendol, dan peyek. Kelompok ini juga mengembangkan berbagai inovasi olahan lain berbahan dasar tepung mangrove, yaitu jenis Lindur dengan merek Mbak Jamat.
3. Srikandi Pantura, merupakan kelompok pengrajin batik mangrove dengan merek Mas Bamat. Selain itu, kelompok ini juga menghasilkan produk turunan, seperti pouch, tote bag, dan taplak mini dengan merek Mbah Sumat, yang memanfaatkan limbah propagul yang telah membusuk serta ranting yang telah jatuh dari pohonnya.
Kunjungan ini dilaksanakan setelah kegiatan edukasi di SD Negeri Mangkang Wetan 01 dan kegiatan penanaman dan pemantauan bibit mangrove yang telah dilaksanakan di kawasan yang sama yaitu SMC Jateng, Semarang dengan diikuti oleh kurang lebih 20 orang dari panitia dan para pemenang Program Ayo BerAksi.
Kunjungan pertama dilaksanakan dengan mengunjungi kelompok Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura yang beranggotakan istri-istri nelayan. Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat mengenai sejarah dan latar belakang kelompok kemudian proses pembuatan jajanan dan batik mangrove yang dijelaskan oleh Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Mufidah (Ketua Kelompok Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura).
“Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura lahir dari inovasi pesisir yang baru dalam memanfaatkan olahan mangrove bukan kayu, dengan bantuan KeSEMaT dan PT PLN Indonesia Power kelompok ini dapat berkembang mengembangkan produk olahan bukan kayu sebagai ekonomi alternatif yang dapat menambah nilai ekonomi di wilayah ini,” jelas Mufidah. “Kelompok Bina Citra Karya Wanita menghasilkan tepung mangrove dari buah Lindur atau jenis Bruguiera yang kemudian diinovasikan menjadi produk seperti kerupuk, peyek, stik, dan cendol serta produk inovasi lain. Sementara, Srikandi Pantura merupakan kelompok pengrajin batik mangrove yang memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari limbah propagul dan ranting mangrove yang telah jatuh atau membusuk,” tambahnya.
Kemudian, kunjungan dilanjutkan dengan menyaksikan secara langsung proses pembuatan batik dengan pewarna mangrove dan jajanan berbahan dasar mangrove. Proses tersebut dipraktikkan oleh Mufidah bersama tim, dengan pendampingan dari IKAMaT serta partisipasi aktif dari para panitia dan pemenang Program Ayo BerAksi.
Dalam sesi ini, peserta tidak hanya melihat tahapan produksi, tetapi juga berkesempatan mencoba secara langsung proses pengolahan, mulai dari proses pengecapan kain dan pewarnaan batik serta pembuatan dan mencicipi cendol mangrove.
Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi yang memperkenalkan potensi ekonomi kreatif berbasis mangrove sekaligus menunjukkan nilai tambah dari pemanfaatan hasil hutan mangrove bukan kayu secara berkelanjutan.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke kelompok pengolah kopi mangrove dengan label Kopi Mangrove Arjuna. Di lokasi tersebut, para peserta diajak untuk mengenal sejarah berdirinya kelompok, proses perkembangannya, serta latar belakang lahirnya produk kopi mangrove itu sendiri.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai proses pengolahan, karakteristik produk, serta nilai ekonomi yang dihasilkan oleh Ferry A. Istiasmara (Ketua Kelompok Arjuna Berdikari).
“Inovasi pengolahan kopi mangrove dilakukan secara trial and error oleh saya dan istri saya dengan berbagai kombinasi antara buah mangrove dan kopi hingga ditemukan komposisi yang pas hingga saat ini. Kelompok dalam perkembangannya juga dibantu oleh KeSEMaT dan PT PLN Indonesia Power dalam rangka meningkatkan kualitas baik secara kelembagaan maupun produk kopi mangrovenya,” kata Ferry. “Hingga saat ini Kopi Mangrove Arjuna sudah bersertifikat Halal dan sudah dipasarkan hingga ke pasar internasional baik dari kunjungan maupun pesanan. Harapannya produk ini dapat terus berkembang dalam rangka peningkatan ekonomi alternatif di sekitar sini,” pungkasnya.
Seluruh rangkaian pendampingan oleh IKAMaT dan kunjungan ke SPOM Semarang berjalan dengan lancar. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB serta disertai dengan sesi dokumentasi dan foto bersama sebagai penutup rangkaian acara. (ADM/ARH/RS/AP).








Tidak ada komentar:
Posting Komentar