16.8.21

Lokakarya Daring Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak

Semarang - IKAMaT. Dengan ini, diinformasikan kepada masyarakat bahwa Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMaT), bekerja sama dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) akan menyelenggarakan seri kegiatan Lokakarya Daring Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak.

LATAR BELAKANG
Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang memiliki nilai ekologis, ekonomi dan sosial yang tinggi. Manfaat dan jasa ekosistem yang diberikan mangrove secara global, nasional dan lokal terlalu besar jika dibandingkan dengan luasan dan distribusi geografisnya. Ekosistem pesisir ini telah lama dikenal memberikan banyak manfaat dalam penyediaan pangan dan sumber mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Mangrove juga berperan dalam pencegahan abrasi, banjir, pencemaran dan pengaruh buruk gelombang laut. Dengan cadangan karbon sebesar 3-5 kali lebih banyak daripada hutan dataran rendah, ekosistem unik di kawasan pasang-surut ini memiliki potensi besar dalam mengatur iklim global, termasuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta menjaga keanekaragaman hayati. 

Indonesia menjadi rumah bagi hampir seperempat mangrove dunia (3,3 juta ha), yang akan sangat diuntungkan apabila ekosistem asli ini terjaga. Mangrove di Indonesia berpotensi mencegah emisi sebanyak hampir 30% dari total emisi nasional (Murdiyarso et al., 2015) dan dapat menjadi Solusi dalam adaptasi perubahan iklim, khususnya akibat kenaikan muka laut. Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan kerugian ekonomi per tahun akibat bencana perubahan iklim di Indonesia adalah 6,7% PDB, sedangkan biaya rata-rata mengurangi dampak kenaikan muka laut (termasuk melalui restorasi mangrove yang rusak) hanya 0,3 % PDB (Asuncion & Lee, 2017).

Kerusakan mangrove di Indonesia akibat alih guna lahan yang diawali dengan deforestasi menjadi tambak, lahan pertanian/perkebunan, dan pemukiman dalam 50 tahun terakhir hanya meninggalkan separuh mangrove yang ada saat ini. Jika laju kerusakan ini tidak dicegah atau dihambat, besar kemungkinan hanya dalam waktu 30 tahun mangrove Indonesia sudah habis.

Proyek Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM) yang diimplementasikan oleh CIFOR bersama mitra di daerah dirancang untuk mengukur kapasitas mitigasi dan adaptasi ekosistem mangrove yang rusak terhadap perubahan iklim, untuk dibandingkan dengan kondisi yang masih utuh sehingga didapatkan gambaran mengenai tindakan restorasi yang tepat. 

Tindakan tersebut tidak hanya menyangkut pemulihan kondisi lingkungan biofisik ekosistem, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang penghidupannya tergantung pada keutuhan ekosistem mangrove di sekitarnya. Kecukupan gizi dan kesehatan serta aktivitas ekonomi yang terkait dengan keberadaan mangrove juga menjadi perhatian.

Selama ini Indonesia hanya memiliki sebuah kerangka regulasi yang berfokus pada pengelolaan mangrove yang berkelanjutan (Perpres No. 73 tahun 2012). Itu pun telah dihapus pada tahun 2020. Akibatnya, kelembagaan yang dibentuk berdasarkan peraturan tersebut menjadi terbengkalai. Namun demikian, investasi dan pengetahuan yang telah dihasilkan harus dimanfaatkan untuk memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat lokal.

Beberapa masalah yang dijumpai di pesisir Jawa, salah satunya adalah Banten, Demak dan Banyuwangi adalah status tanah timbul yang belum jelas. Tanah timbul merupakan sebagian daratan yang terbentuk karena adanya peristiwa alam, daratan yang timbul tersebut memiliki potensi dan nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan, baik untuk usaha pertanian, tambak, maupun tempat untuk mendirikan bangunan. Masalah yang muncul adalah sulitnya menemukan lahan penanaman dan masalah status kepemilikan lahan yang belum jelas sehingga perlu adanya penegakan hukum mengenai tanah timbul.

Berdasarkan hal tersebut, perlu diadakannya suatu forum yang mengundang beberapa instansi pemerintahan dan masyarakat sekitar untuk memperoleh kejelasan mengenai pengelolaan status tanah timbul di masing-masing daerah. Secara khusus, di wilayah Banyuwangi, kondisi mangrove yang termasuk ke dalam Kawasan Ekonomi Esensial (KEE) menunjukkan bahwa sangat potensial untuk dimanfaatkan secara maksimal.

KEE yang telah berjalan di Teluk Pangpang misalnya, dijadikan lokasi ekowisata, konservasi burung, dan tambak perikanan. Namun sayangnya, potensi tersebut tidak sejalan dengan kemampuan pengelolaan KEE secara maksimal. Ketidakmaksimalan tersebut terjadi karena masih terdapat ketidaksepahaman para pihak dalam pengelolaan KEE.

Perubahan kebijakan/kewenangan dari stakeholder terkait berpengaruh pada dukungan para pihak dalam pengelolaan KEE. Berdasarkan hal tersebut, perlunya diadakan forum diskusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan luaran yang dapat diimplementasikan di wilayah Banyuwangi. 

Secara khusus di wilayah Banten, pesisir Banten merupakan wilayah yang berpotensi menjadi ekowisata laut dan pantai, serta lokasi konservasi mangrove dan biota asosiasi. Potensi tersebut akan meningkatkan beberapa dampak positif terhadap pesisir Banten, diantaranya adalah peningkatan jumlah budidaya ikan tambak, peningkatan penyerapan karbon dan peningkatan ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.

Namun, terdapat beberapa permasalahan yang menghambat munculnya dampak positif tersebut. Permasalahan kemiskinan, kualitas hidup, sanitasi serta abrasi dan intrusi air laut yang dapat menurunkan kemampuan masyarakat dan stakeholder, terkait dalam pengelolaan mangrove secara berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, perlunya diadakan forum diskusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan luaran yang dapat diimplementasikan di wilayah Banten.

Secara khusus, di wilayah Demak, kondisi pesisir telah banyak mengalami pengurangan luasan. Ditambah dengan adanya proyek pembangunan Tol Semarang-Demak, membuat pesisir Demak harus segera disiapkan dengan beberapa dampak yang akan muncul. Terutama sempadan pantai bagian timur Demak, yang direkomendasikan sebesar 100–200 m, lebih kecil dibandingkan wilayah barat sebesar 200–300 m.

Maka dari itu, diperlukan pendekatan rehabilitasi di jalur hijau pantai dan sungai yang perlu didukung oleh beragam stakeholder. Realisasi pendekatan tersebut akan membuat sinergitas antara pembangunan dan rehabilitasi yang tidak mengabaikan masyarakat lokal. Berdasarkan hal tersebut, perlunya diadakan forum diskusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan luaran yang dapat diimplementasikan di wilayah Demak.

TUJUAN
UNDIP dan IKAMaT, bekerja sama dengan CIFOR akan menyelenggarakan seri kegiatan “Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak” yang akan berlangsung selama satu tahun dengan tujuan:
1. Membangun kembali jaringan sosial untuk menyalurkan informasi kepada para pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan ekosistem mangrove di Banyuwangi, Banten dan Demak.
2. Meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan dalam beradaptasi dengan tantangan dan peluang baru terkait dengan restorasi dan rehabilitasi mangrove di Banyuwangi, Banten dan Demak.

WAKTU PELAKSANAAN
A. Benchmark Banyuwangi
Hari/Tanggal: Rabu, 18 Agustus 2021
Waktu: 09.00 – 11.00 WIB
Platform: Zoom Cloud Meetings

B. Benchmark Banten
Hari/Tanggal: Kamis, 19 Agustus 2021
Waktu: 09.00 – 11.00 WIB
Platform: Zoom Cloud Meetings

C. Benchmark Demak
Hari/Tanggal: Jumat, 20 Agustus 2021
Waktu: 08.30–10.45 WIB
Platform: Zoom Cloud Meetings

PESERTA
Peserta lokakarya pada masing–masing benchmark terdiri dari 20 peserta, yang terdiri dari NGO nasional dan lokal, komunitas lokal, kelompok mangrove dan penyuluh.

DESKRIPSI KEGIATAN
Membangun Basis Data
Seri kegiatan ini merupakan kombinasi antara pertemuan daring dan luring serta kunjungan lapangan. Kegiatan tersebut akan terlaksana dengan baik, jika pesertanya diidentifikasi secara tepat. Oleh karena itu perlu membangun pangkalan data (database), tentang para pihak yang akan terlibat pada kegiatan, yaitu nama dan instansi calon peserta, nama dan instansi narasumber (resource person) di lingkup regional Banyuwangi, Banten dan Demak, yang terdiri dari NGO nasional dan lokal, komunitas lokal, kelompok mangrove dan penyuluh.

Pangkalan data ini akan mempermudah komunikasi/dialog secara berkala dan koordinasi pada kegiatan benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak, yang akan memiliki satu penghubung (Lead Organizer - LO). LO memiliki tugas sejak tahap awal dalam membangun pangkalan data dan koordinasi dialog, baik secara daring maupun luring.

Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan ruang digital untuk pertemuan rutin yang akan dijalankan secara berkala. Pertemuan ini telah diawali dengan Lokakarya Perdana (LP) pada tanggal 15 Juli 2021 yang lalu untuk pengenalan program kepada semua pihak, yang mencakup latar belakang, tujuan, cara dan hasil akhir yang diharapkan.

Lokakarya Daring Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak (LDB3T).
Menindaklanjuti LP, maka LDB3T akan dilaksanakan pada tanggal 18-20 Agustus 2021 dengan judul kegiatan "Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak" yang bertujuan untuk memberikan gambaran utuh konsep ReCLAIM dan mendapatkan umpan balik tentang implementasinya.

LDB3T yang dilakukan akan lebih khusus membahas komponen yang menjadi komponen utama dalam proyek ReCLAIM. Adapun komponen utama tersebut adalah mitigasi, adaptasi, ketahanan pangan dan nutrisi serta komunikasi.

Pemerintah daerah dan komunitas lokal diharapkan dapat meningkatkan kapasitasnya dalam pengelolaan keempat komponen tersebut pada masing-masing benchmark. LDB3T juga akan menjadi langkah awal dalam peningkatan kapasitas benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak untuk satu tahun kedepan.

Susunan acara LDB3T yang melibatkan pemangku kepentingan di Banyuwangi, Banten dan Demak adalah sebagai berikut, di bawah ini:

A. Benchmark Banyuwangi
09.00 – 09.15 WIB
Pembukaan dan Sambutan
MC:
Clara Azalia Belinda (IKAMaT)
Sambutan:
Dr. Rudhi Pribadi (UNDIP)

09.15 – 09.35 WIB
Pendahuluan: Program ReCLAIM Benchmark Banyuwangi
Panelis:
Ganis Riyan Efendi, S.Kel. (IKAMaT)

09.35 – 10.35 WIB
Panel Talk Show: (Pemerintah Daerah, NGO Lokal dan Kelompok Masyarakat)
Panelis:
1. Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi
2. Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam (ARuPA) 
3. M. Ali Saifudin (Ketua Bakti Teluk Pangpang Banyuwangi)

Moderator:
Paspha Ghaishidra Muhammad Putra (IKAMaT)

10.35 – 11.10 WIB
Diskusi
Penanggap:
1. Prof. Daniel Murdiyarso (CIFOR)
2. Mulia Nurhasan, M.Sc. (CIFOR)
3. Paspha Ghaishidra Muhammad Putra (IKAMaT)

Moderator:
Paspha Ghaishidra Muhammad Putra (IKAMaT)

11.10 – 11.15 WIB
Penutupan dan Pembacaan Kesimpulan
MC:
Clara Azalia Belinda (IKAMaT)
Moderator:
Paspha Ghaishidra Muhammad Putra (IKAMaT)

B. Benchmark Banten 
09.00 – 09.15 WIB
Pembukaan dan Sambutan
MC:
Clara Azalia Belinda (IKAMaT)
Sambutan:
Dr. Rudhi Pribadi (UNDIP)

09.15 – 09.35 WIB
Pendahuluan: Program ReCLAIM Benchmark Banten
Panelis:
Ganis Riyan Efendi, S.Kel. (IKAMaT)

09.35 – 10.35 WIB
Panel Talk Show: (Pemerintah Daerah, NGO Lokal dan Kelompok Masyarakat)
Panelis:
1. Risnawati Rahayu, S.Pi. (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten)
2. Urip Triyanto (Yayasan Lahan Basah) Muhamad Guntur (Kelompok Tabur Mangrove)

Moderator:
Frans Alexander Nainggolan (IKAMaT)

10.35 – 11.10 WIB
Diskusi
Penanggap:
1. Prof. Daniel Murdiyarso (CIFOR)
2. Frans Alexander Nainggolan (IKAMaT)

Moderator: Frans Alexander Nainggolan (IKAMaT) 11.10 – 11.15 Penutupan dan Pembacaan Kesimpulan MC: Clara Azalia Belinda (IKAMaT) Moderator: Frans Alexander Nainggolan (IKAMaT)

C. Benchmark Demak
08.30 – 08.45 WIB
Pembukaan dan Sambutan
MC:
Clara Azalia Belinda (IKAMaT)
Sambutan:
Dr. Rudhi Pribadi (UNDIP)

08.45 – 09.05 WIB
Pendahuluan: Program ReCLAIM Benchmark Demak
Panelis:
Ganis Riyan Efendi, S.Kel. (IKAMaT)

09.05 – 10.05 WIB
Panel Talk Show: (Pemerintah Daerah, NGO Lokal dan Kelompok Masyarakat)
Panelis:
1. Arso Budiyatno, S.T. (Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Demak)
2. Trialaksita Sari Priska Ardhani, S.Kel., M.Si. (CIFOR)
3. aLI mAHMUD (Organization for Industry, Spiritual, Culture and Advancement - OISCA)

Moderator:
Bagus Rahmattullah Dwi Angga, S.Kel. (IKAMaT)

10.05 – 10.40 WIB
Diskusi
Penanggap:
1. Prof. Daniel Murdiyarso (CIFOR)
2. Mulia Nurhasan, M.Sc. (CIFOR)
3. Bagus Rahmattullah Dwi Angga, S.Kel. (IKAMaT)

Moderator:
Bagus Rahmattullah Dwi Angga, S.Kel. (IKAMaT)

10.40 – 10.45 WIB
Penutupan dan Pembacaan Kesimpulan
MC:
Clara Azalia Belinda (IKAMaT)
Moderator:
Bagus Rahmattullah Dwi Angga, S.Kel. (IKAMaT)

DIALOG DAN KUNJUNGAN LAPANGAN
Sebagai tindak lanjut LDB3T, maka dialog dan pertemuan berkala dengan para pemangku kepentingan di akan dilakukan guna membahas cara-cara teknis dan kendala dalam implementasi rencana pengelolaan ekosistem mangrove.

Dialog berkala ini secara spesifik meliputi:
1. Peningkatan kesadaran semua pihak mengenai bahaya kerusakan mangrove dan langkah konkrit melakukan adaptasi dan restorasi kerusakan yang telah terjadi.
2. Pengembangan kapasitas pemimpin kelompok masyarakat dan anggotanya dalam hal kebijakan dan kelembagaan pengelolaan mangrove serta tata cara implementasi kebijakan.
3. Kunjungan lapangan dan studi banding untuk menunjukkan aksi nyata pengelolaan dan restorasi mangrove untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

KONTAK
Segala bentuk korespondensi berkaitan dengan Lokakarya Daring “Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak,” dapat ditujukan kepada:

Paspha Ghaishidra Muhammad Putra
PIC Banyuwangi ReCLAIM Project
+62 852 2893 0024

Frans Alexander Nainggolan
PIC Banten ReCLAIM Project
+62 822 2123 6893

Bagus Rahmattullah Dwi Angga, S.Kel.
PIC Demak ReCLAIM Project
+62853 2633 8500 

Sekretariat IKAMaT
Jl. Kelapa Gading V, Blok AM No. 14
Bukit Kencana Jaya, Kelurahan Meteseh 50271
Semarang - Jawa Tengah, INDONESIA

P. +6282177832014
E. yayasanikamat@gmail.com
W. ikamat.org

IKAMaT adalah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove dan mewujudkan kemakmuran masyarakat di kawasan pesisir.

PENUTUP
Demikian TOR ini kami susun. Semoga kegiatan ini dapat membantu dalam memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat lokal. Atas kerja sama semua pihak yang mendukung kegiatan ini, kami sampaikan terima kasih. (ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar